Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label pengalaman

Jadi Turis

Kalo kita lihat turis di negeri kita, kayaknya mata kita udah gak asing lagi ya. Nah, tapi kalo kita nya yang jadi turis, kan agak asing ya, nah disini saya mau nulis dikit, gimana rasanya kalo kita yang jadi turis. Hal ini kami alami ketika kami sampai di negeri 1000 menara, Turki. Kami ber-8 orang sedang jalan jalan di pasar eminonu, kaya tanah abangnya, jakarta. Tiba-tiba penjual baju baju, perabotan dll, berbahasa indonesia kepada kami, sok sok akrab gitu, macem- macem bilangnya, ada yang apa kabar, gimana, orang indonesia, silahkan dll. Walaupun tak jarang juga yang menyapa kami menggunakan bahasa malaysia atau melayu, ape kaber, bahkan ada yang mengira kami orang cina, padahal gak ada yang sipit di antara kami. Selain itu, ketika sampai di suatu objek wisata, banyak mata tertuju pada kami, bukan kami gede rasa atau semacamnya, sebab tidak lama setelah itu ada sebuah keluarga yang ingin foto bersama kami. Walhasil ya, kami izinkan. İtu sedikit kisah yang bisa disampaikan. Ter...

Bisikan Hujan

Sekitar pukul 14.30 Waktu bagian Ciputat, Saya bergegas menuju stasiun Pondok Ranji dengan angkot   berwarna merah jurusan  bintaro-lebakbulus kalo nggak salah. Duduk di angkot panas-panasan kira-kira seperempat jam, setengah jam kayaknya plus ngetemnya . Memanfaatkan waktu yang ada, saya berpikir ngalor-ngidul , entah membayangkan apa waktu itu, padahal seharusnya saya bisa melakukan hal yang bermanfaat, yaitu dengan memikirkan kamu yang tersipu malu sedang membaca dalam hati yang syahdu  umur, telah dipakai untuk apa sajakah selama ini. kebaikan? Atau keburukan? Atau bertafakkur, atau bisa juga dzikiran dalam hati.  Singkat cerita, setelah sampai stasiun Pondok Ranji, saya segera memesan tiket menuju Pondok Cina. Yap, Hari ini saya mendapatkan undangan ngumpul bersama orang-orang langka yang dulunya ketika di kampus banyak meluangkan waktunya untuk berkontribusi dalam mengembangkan softskill mahasiswa Fakultas Ekonomi di Universitas Negeri Jakarta.  ...

Diantara orang tidur

Ah, malam ini aku akan memulai lagi, menulis kata demi kata untuk menuangkan isi dari wadah ini. Walaupun keadaan di sekitarku masih sepi. Pukul 1.33 pagi aku masih menyendiri di antara puluhan mahasiswa di sebuah asrama pondok pesantren. Dikatakan asrama karena ini adalah tempat penginapan bagi sekelompok mahasiswa yang paginya kuliah di kampus, lalu jika dikatakan pondok pesantren ya, karena di sini kami diajari tentang Al-qur'an dan kitab-kitab salaf. Ini adalah waktunya untuk tidur, tapi kenapa aku masih menuliskan kata-kata yang tak tahu ada manfaat atau tidaknya dalam kalimat ini. Namun aku hanya menuruti keinginan hati. Tapi aku tak berani jamin kalau saat ini hati yang menuntun, karena hari ini kita kadang menyamakan hati dan ego kita. Ruang tidur disini ada 18 tempat tidur tingkat dua, jadi ada 2 kasur atas dan bawah. jika terisi semua berarti ada 36 orang. Ini sudah cukup untuk membuat sebuah tim paduan suara dengkuran yang bisa diberangkatkan olimpiade bulan ini. Tapi...

DO'A

Allahummarzuqna hifdzal mursalin wailhamal anbiyai wafahmal auliyai bikaramika ya akramal akramin wabirahmatika ya arhamar rahimin ( Ya Allah berikanlah kami hafalan (penjagaan) para rasul dan ilham para nabi dan pemahaman para wali dengan kemulyaanmu wahai Yang Maha mulya dan kasih sayangmu wahai Yang Maha Penyayang). Ini adalah do'a yang diajarkan oleh guru saya ketika saya belajar mengaji. kandungan isinya saya rasa luar biasa, karena kita meminta kepada Allah agar mengaruniakan kita dengan keutamaannya para rasul, nabi dan wali. Dan ini saya yakini sangat berpengaruh terhadap kemudahan-kemudahan yang saya dapatkan ketika belajar. Selain itu, saya pernah mendengar bahwa ada do'a yang akan diamini oleh para malaikat. Tahu sendiri kan, kalau malaikat tidak pernah berbuat maksiat. Berbeda dengan kita (bukan anda) yang kadang imannya kuat, kadang jeleknya kumat. Berarti kalo amin (do'a) nya malaikat lebih memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk dikabulkan dibandingk...

3 Hal yang paling ditunggu santri

Assalamu'alaikum Halo, hai ... disini ada yang pernah jadi santri? Ya, paling nggak,  pernah jadi santri di pesantren kilat, hehe. Kalau kalian pernah jadi santri, tentunya kalian pernah menunggu beberapa hal di bawah ini. 1. Handphone Santri juga manusia yang memiliki kebutuhan sosial untuk berkomunikasi dengan sesamanya, selain komunikasi santri juga butuh untuk beraktualisasi diri, misalnya dengan upload foto-foto terkini atau dengan menulis sebuah blog, dan saat ini alat yang paling sesuai untuk hal semacam itu ialah  handphone . Oleh karena itu kebutuhan santri akan handphone menjadi begitu primer, bahkan ada beberapa santri yang lebih memilih menahan lapar, saat menunggu antrean pembagian handphone ketimbang untuk makan. Kadang beberapa santri rela menghabiskan berjam-jam untuk menelpon seseorang yang dianggapnya penting seperti orang tua, saudara, teman biasa dan teman spesial. Spesial pake telor. Maksudnya mungkin teman seperjuangan sesama laki-laki, atau...

klakson

Siang itu sekitar pukul 14.30, udara di sekitar ciputat dan sekitarnya masih cukup panas. Kira-kira mencapai 34°C. Kendaraan di sepanjang jalan Juanda padat merayap. Bunyi klakson yang memekikkan telinga seakan menjadi ajang eksistensi diri di bawah teriknya matahari. Tubuh ini terasa basah kuyup oleh lelehan keringat yang sedari tadi masih mengalir. Panas. Mungkin terlalu panas untuk diriku baru sehari tinggal di daerah Ciputat, berbeda sekali dengan kampung halamanku di dieng, Jawa Tengah, yang hawa paginya selalu menusuk tulang. okelah. aku akan mencoba bernegoisasi dengan tubuhku untuk mulai terbiasa dengan rasa panas ini. Tapi tidak dengan bunyi ini, aku tak bisa memalingkannya, ini seperti gaduh dan kacau bergabung jadi satu menghasilkan jeritan-jeritan penderitaan yang menyayat hati. Membuat kepalaku pening. seminggu saja seperti ini terus, tampaknya aku akan menjadi orang gila. Aku menggerutu dalam hati, mengapa setiap orang perlu membunyikan klaksonnya sesering ini. Untuk k...

Wisuda Temen Gue

21 Mei 2016. Sabtu ini, Gue dan temen-temen mau ikut meramaikan teman yang diwisuda di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat. Sebut saja namanya “Andilau”. Awalnya gue berpikir kayaknya kagak terlalu penting untuk datang ke acaranya. Sekarang kan udah ada teknologi canggih, ngucapin selamatnya bisa lewat BBM aja, Whats’up juga bisa. Atau langsung telepon aja biar lebih kelihatan penting.  Tapi udah terlanjur meng-iyakan ajakan temen-temen, akhirnya mau gak mau harus ikut. Terus Gue mikir, bawa apa ya, buat temen gue yang wisuda ini? Coklat? Nanti takut kena diabetes, Foto? Nanti juga bakal foto-foto lagi, Bunga? Kayaknya kurang cocok, sesama cowok ngasih bunga. Bunga Uang? Kan Riba, haram dong. Karena kebanyakan mikir, tiba-tiba Gue baru sadar kalo udah nyampe UIN, dan kite udah tepat berada di depan si Andilau tanpa membawa apa-apa.

Antara Kueh, Coklat dan Dasi

Lu pernah nggak, pas malam kagak ngimpi kejatohan duren, dapet banyak ikan atau melihat bulan.   Eh Tapi besoknya dapet banyak rezeki dari sahabat-sahabat lu yang baik bin kece. pasti pernah dong. gue juga pernah.

Ekopers Curcol

Assalamu’alaikum .... mpok, abang yang gua banggain, gimane kabarnye nih.. Udah lame gak nyapa nih, buat pertemuan kali ni gue cuma mau ngomongin tentang temen hidup gue yang namanya Amin, yang lagi ngerjain tugas akhirnye. Gue sebagai temen yang udah nemenin dia semenjak lahir, temen yang berada satu raga dengan dia, tahu segala baik buruknya. Disini gue bukan mau ghibah ngomongin kesalahannya dia. Gue Cuma mau sharing aja yang dia pernah curhatin ke gue. Sekarang ini dia lagi ngerjain tugas akhirnya di kampus bareng temen-temennye. Gue mau nyeritainnye yang di Ekop aje dulu, Pertama ada Oji dan Rita yang udeh berhasil maju sidang skripsi. Selamet buat mereka berdua yang udeh berjuang melawan diri sendiri untuk fokus ngerjain kewajiban akhir sebagai seorang mahasiswa. Mereka berdua juga rajin ke kampus, selain buat pemberkasan, mereka juga ikut bantu-bantu temen yang lain buat ngerjain skripsi, paling nggak ngomporin dengan kalimat “kapan maju sidang?”.  Walaupu...

Kau dan Kenangan di Kuningan

Malam jum’at adalah waktu yang tepat untuk bersantai sejenak ditemani beberapa teman yang sengaja mencari tempat yang tidak terlalu gelap dan tidak terlalu terang. Tempat sepi adalah tempat favoritku untuk menghabiskan malam yang indah ini. malam ini aku ditemani teman karibku yang namanya Hakim Hwoo Yun. Ayahnya dari korea selatan, ibunya asli Jakarta. Kami tinggal di dekat N112. Malam ini kami baru bertemu kembali setelah seminggu kemarin kami melakukan kesibukan masing-masing. Kesibukanku selama seminggu kemarin adalah membantu ayahku berjualan baju di pasar Gunung Salak. Sedangkan Hakim, ku perhatikan akhir-akhir ini sedang tertarik dengan kegiatan mahasiswa yang pernah kuliah di gedung N. dan ternyata benar ketika ku tanyakan kesibukan seminggu kemarin. dia baru saja ikut acara jalan-jalan anak ekop reg 2011 ke Kuningan, Jawa Barat.  Sekarang buruan ceritakan kepadaku bagaimana kisah perjalanan kalian. Nanti akan ku tulis diblogku.

Solusi Macet versiku

Macet. Apa itu macet? Saya yakin kamu semua udah pada tau artinya kan? Kalo masih belum tau, coba tanyakan ke orang jakarta. Hehe.

The Generation of Miracle

Pengalaman ini saya temukan ketika saya sedang melaksanakan PKM (Program Kegiatan Mengajar) di SMA di Jakarta Timur. Saya dari jurusan Pendidikan Ekonomi dengan tiga kawan yaitu, Alfi, Alit dan Ilfi. Karena jumlah kelas ekonomi yang diperbolehkan untuk kami mengajar ada empat, maka kamipun membagi kelas dengan jumlah kami yang juga kebetulan berjumlah empat juga. Alfi mengajar dikelas sepuluh (X) IIS 1, Alit dikelas sepuluh (X) IIS 2, Ilfi dikelas sebelas (XI) IIS dan saya sendiri mengajar dikelas sepuluh (X) MIA.  Pertama kali masuk ke kelas sepuluh MIA sebenarnya masih ada sedikit perasaan grogi, tapi perasaan itu saya tepis dan saya mulai memperkenalkan diri dengan PD nya. Ketika itu saya langsung bertanya siapa ketua kelasnya. Karena saya berpikir, empat bulan kedepan saya akan sering bekerjasama dengan ketua kelas tersebut. Dan ketua kelas saat itu adalah Nay yang nama aslinya adalah Amanah Dzulhajah. Saya pikir dia adalah anak yang pemberani dan tegas. Kelihatan dari ...

Misteri Hari Rabu

Melihat masa lalu merupakan salah satu teknik belajar, karena dengan melihat masa lalu kita bisa mengambil beberapa pengalaman unik yang kita bisa jadikan bahan ajar dalam RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) kehidupan kita. Disini Saya akan berbagi mengenai Kewirausahaan yang dilakukan oleh sahabat saya, Ngudi. Ngudi yang pada waktu itu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Akhir telah menunjukan bakat kewirausahaan dalam dirinya. Kebanyakan dari kita memiliki persepsi bahwa kewirausahaan adalah bekerja mandiri, tidak bekerja kepada orang lain. Padahal ya betul kalau anda berpikir seperti itu.  Untuk mengilustrasikannya Saya memiliki cerpen sedikit…

bertemu Cinta

Akhir-akhir ini aku baru bisa merasakan cinta yang cukup dalam. Yah, memang benar cinta itu datangnya tiba-tiba namun dapat dipersiapkan awal kejadiannya. Walaupun aku sudah sering berjumpa denganmu dan tidak jarang untuk memikirkanmu namun rasanya aku baru mengenalmu. Memang waktu berjalan begitu cepat. Rasanya agak kecewa, mengapa di akhir masa masa kita dipertemukan aku baru mau berpikir serius mengenaimu.

penjual mainan yang tidak main-main

Siang pada hari jumat itu rasanya matahari begitu membakar kota Jakarta, namun hal itu tak mengalahkan semangat seseorang yang sedang dilanda cinta. Cinta kepada diri sendiri , cinta kepada orang tua, dan cinta kepada anak istrinya. Siang itu saya melihat seorang bapak yang berumur kira-kira 45 tahun sedang menjajakan barang dagangannya yang berupa mainan anak-anak diperempatan jalan, dekat lampu merah.  Wajahnya yang kusam penuh debu jalanan, badan yang terlihat sudah tidak sebugar saat masih muda , jalannnya pun sedikit pincang. Namun bukan hidup namanya, kalau tidak ada hal-hal yang diperjuangkan. Dan menurut saya bahan bakar perjuangan itu bernama cinta , sampai saat ini belum ditemukan bahan alternatif lain yang dapat memicu seseorang untuk berjuang selain cinta. Yang ada hanyalah pemicu semu yang bersifat sementara seperti keelokan wajah, uang atau materi-materi lainnya. Pemicu semu ini hanya bersifat sementara karena pemicu ini tidak akan sanggup untuk menemani kita sep...

Senandung di Pulau Tidung (Part 2)

Terik matahari masih setia menemani kami, Sidik, Desta, Choib, Rilo, Arif, Niko, Oji, Iqbal dan aku yang berada di atas kapal. Untuk menghilangkan rasa bosan, kami bernyanyi bersama. Sidik yang paling bersemangat untuk masalah bermusik. Sebuah gitar dan drum akustik sengaja ia pinjam, sebagai bentuk bukti semangat Sidik untuk bermusik dalam rangka memeriahkan liburan kami selama di pulau Tidung. Jadilah kami sebagai band dadakan. Dengan gitaris Niko, penabuh drum akustik Sidik, vokalis Oji. Sisanya sebagai backing vokal, dancer (fiksi) dan penonton.

Senandung di Pulau Tidung (Part 1)

Setelah microteaching, besoknya ke pulau tidung. Kebayang bagaimana serunya naik kapal bareng, makan bareng, dan sekamar bareng anak-anak ekopers yang sebagiannya gile abiss, sebagiannya lagi masih menuju waras. Uang udah ngumpul beberapa juta di Kakak Ia (Tria), tinggal hanya beberapa orang lagi yang belum bayar. Geng 92 yang terdiri dari Otoy, Mute, Amin dan Silvi (padahal silvi kelahiran 94) akhirnya bersedia untuk ikut juga setelah tadinya tidak ingin ikut. Mungkin Om Iqbal berhasil membujuknya. Sebenernya aku ingin semuanya ikut, tapi bagaimana lagi, beberapa teman tidak bisa ikut dengan berbagai hal seperti Bendahara ekopers, Lala dan Elia, alibinya ada yang lagi ga megang uang (lah emang uang dipegang terus?) dan ada yang takut air, berarti salah satu dari diantara keduanya ada yang gak pernah mandi. hehe. kalo Cholilah nungguin ortunya, Ricky lagi gawe, Steples Novratilova (mengambil istilah dari sohib) Steffi maksudnya,lagi ada urusan, Tari seminar, Rita pkl, Ganjar g...