Langsung ke konten utama

Vaksin R081442

Tak ada kata terlambat untuk memulai :) 

Malam ini, 8 Ramadhan 1442 atau 20 April 2021 pukul 00.00 aku memulai sesuatu yang lama aku lupakan; yakni menulis. 

Terakhir kali aku menulis, saat aku masih di Turki,  ketika sedang berkutat dengan hafalan-hafalan kitab klasik nahwu dan sharaf dalam rangka menempuh pendidikan informal yang diselesaikan selama 2 tahun lebih 8 bulan. Saat itu aku menulis mengenai hal-hal yang menjadi keresahan dalam benakku yang aku beri judul "Sampah". Kenapa sampah? 

Karena keresahan tersebut ku pikir tidak ada gunanya ketika ditulis. Tapi ku berharap di masa yang akan datang, aku bisa mengambil beberapa pelajaran ataupun bisa memutar kenangan yang mungkin bisa memberikan trigger untuk melakukan perbuatan positif yang produktif. 


Malam ini aku membaca koran republika yg tanggalnya aku sendiri lupa 😅. Dalam koran tersebut ada beberapa tajuk yang menarik yakni mengenai tokoh Fariduddin Attar seorang penyair kelahiran kota Nisaphur /Naisabur, Iran. Perjalanannya untuk menekuni ilmu tasawuf ke berbagai kota menghasilkan sebuah kitab yang masyhur yang berjudul Manthiqut-Thayr. Kitab tersebut berisi tentang kisah 30 burung yang bermusyawarah untuk menemukan pemimpin atau sosok yang ideal. Perjalanan tersebut tentunya memiliki tantangan yg tidak mudah untuk dilalui. 

Dalam karangan tersebut, penulis yakni Attar ingin menjelaskan mengenai perjalanan seorang salik dalam tasawuf yang digambar melalui metafor seekor burung yang mencari sosok phoenix. Ada tujuh tahapan seorang salik untuk bisa bertemu atau bisa merasakan kehadiran dari Dzat yang maha kasih. Diantaranya adalah tahap pencarian, tahap cinta kasih, tahap kearifan, tahap kebebasan, tahap keesaan murni, tahap ketakjuban, tahap kefanaan dan kefakiran. 

Bagi yang belum pernah mempelajari tasawuf, coba baca dan pelajari pengertian tasawuf. Tasawuf istilah lainnya ialah Tazkiyatun-Nafs, ihsan, ilmu akhlaq. Jadi tasawuf ini erat kaitannya dengan pengertian ihsan yang disebutkan dalam penjelasan hadits jibril (hadits yang diriwayatkan ketika Rasulullah saw berdialog dengan malaikat jibril yang sedang menyerupai seorang pemuda) mengenai beberapa pengertian iman, islam dan ihsan. 

Oh iya jadi aku tiba-tiba ingat tanggal di koran Republika ialah tanggal 21 Maret 2021 karena bertepatan dengan hari puisi. Oleh karena itu republika membahas tokoh penyair muslim yakni Fariduddin Attar. Dan beliau ini juga termasuk sufi yang bertemu dengan Jalaluddin rumi kecil dan memprediksi bahwa kelak Jalaluddin akan menjadi sufi besar yang menjadi panutan. 

Oke, mungkin sampai sini dulu. Mudah-mudahan kedepannya aku dan kamu semakin semangat untuk terus menulis dan membaca. Sebenarnya aku butuh kamu nih untuk partner diskusi sehingga pemahaman yang ku punya bisa berkembang dan memproduksi anak pemahaman lainnya yang lebih bermanfaat. 

:) 

Komentar

  1. Berkembang dan memproduksi anak? Wkwkkw
    Display hape sempat bikin gagal paham

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat untuk Mantan, BiIQis

Yth. Kepada Mantan BiIQis Di manapun berada.                 Hujan Bulan Juni Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu, Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni Dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.                      Sapardi Djoko Damono Sehubungan dengan datangnya surat ini, aku ingin memberikan kabar bahwa aku di sini sedang tidak terlalu baik tapi tidak juga buruk. Udara musim dingin belum begitu bersahabat denganku sehingga kadang membuatku merasa kurang nyaman. Ya, walaupun begitu, aku tidak bisa menafikan keindahan hujan saljunya yang memberikan hiburan tersendiri bagiku, karena menurutku hujan salju itu seperti hujan gula ...

Bisikan Hujan

Sekitar pukul 14.30 Waktu bagian Ciputat, Saya bergegas menuju stasiun Pondok Ranji dengan angkot   berwarna merah jurusan  bintaro-lebakbulus kalo nggak salah. Duduk di angkot panas-panasan kira-kira seperempat jam, setengah jam kayaknya plus ngetemnya . Memanfaatkan waktu yang ada, saya berpikir ngalor-ngidul , entah membayangkan apa waktu itu, padahal seharusnya saya bisa melakukan hal yang bermanfaat, yaitu dengan memikirkan kamu yang tersipu malu sedang membaca dalam hati yang syahdu  umur, telah dipakai untuk apa sajakah selama ini. kebaikan? Atau keburukan? Atau bertafakkur, atau bisa juga dzikiran dalam hati.  Singkat cerita, setelah sampai stasiun Pondok Ranji, saya segera memesan tiket menuju Pondok Cina. Yap, Hari ini saya mendapatkan undangan ngumpul bersama orang-orang langka yang dulunya ketika di kampus banyak meluangkan waktunya untuk berkontribusi dalam mengembangkan softskill mahasiswa Fakultas Ekonomi di Universitas Negeri Jakarta.  ...